TONDOH, Kutai Barat, Sabtu, 11 April 2026 : Sektor usaha perikanan di Kampung Tondoh mulai menunjukkan perkembangan yang menjanjikan. Salah satu yang menonjol adalah budidaya ikan nila milik Oetomo Darmilie, warga setempat yang konsisten mengembangkan usaha perikanan sejak beberapa tahun terakhir.
Usaha budidaya ikan nila ini telah berjalan sejak tahun 2018 dan kini menjadi salah satu peluang ekonomi yang potensial di Kampung Tondoh. Dengan sistem mandiri, Oetomo berhasil mengembangkan pembibitan tanpa bergantung pada pasokan dari luar.
“Kami mulai budidaya ini sejak 2018. Sampai sekarang, bibit tidak pernah beli karena semuanya dari hasil pembibitan sendiri,” ujarnya.
Dalam satu kolam, kapasitas maksimal dapat mencapai sekitar 4.000 ekor ikan nila. Namun, untuk menjaga kualitas pertumbuhan, diperlukan pengelolaan yang baik, termasuk penggunaan oksigen tambahan saat kepadatan tinggi.
“Kalau kapasitas penuh sampai 4.000 ekor, harus pakai oksigen karena ruang geraknya sempit dan oksigen alami berkurang,” jelas Oetomo.
Saat ini, sebagian kolam difokuskan pada pembibitan dan pembesaran. Ikan yang telah mencapai ukuran konsumsi akan dipanen, sementara yang masih kecil tetap dibudidayakan untuk siklus berikutnya.
“Setiap panen selalu dipilah. Yang besar dijual, yang kecil tetap dibudidayakan,” tambahnya.

Kolam budidaya ikan nila milik Oetomo Darmilie di Kampung Tondoh, dengan kapasitas hingga 4.000 ekor, yang dikelola secara mandiri sejak tahun 2018.
Dalam satu tahun, panen dapat dilakukan secara berkala setiap empat bulan, tergantung kondisi dan pertumbuhan ikan. Hasil panen pun bervariasi karena ukuran ikan dalam satu kolam tidak seragam.
Dari sisi pemasaran, ikan nila hasil budidaya ini masih menyasar pasar lokal, termasuk masyarakat sekitar dan karyawan perusahaan di wilayah tersebut.
“Pasarnya masih lokal, biasanya warga dan karyawan perusahaan. Pembelian bisa satu sampai lima kilo per orang,” ungkapnya.
Permintaan tertinggi terjadi menjelang akhir tahun, khususnya pada bulan November hingga Desember. Namun, keterbatasan kolam dan bibit masih menjadi kendala utama dalam memenuhi permintaan tersebut.
“Kalau menjelang Natal, permintaan meningkat, tapi sering terkendala karena bibit dan kolam masih terbatas,” jelasnya.
Saat ini, harga jual ikan nila di Kampung Tondoh berkisar Rp50.000 per kilogram. Oetomo juga menilai bahwa peluang pengembangan usaha masih terbuka luas, terutama jika didukung dengan penambahan kolam serta sistem budidaya yang lebih intensif.
Ia menambahkan, metode budidaya ikan jantan (monoseks) dapat menjadi solusi untuk mempercepat pertumbuhan jika ingin fokus pada produksi skala besar.
Menariknya, usaha budidaya ikan nila seperti ini masih tergolong terbatas di Kampung Tondoh, sehingga peluang pasar masih sangat terbuka.
“Di sini masih sedikit yang budidaya seperti ini, jadi peluangnya masih besar,” tutupnya.
Dengan potensi yang ada serta permintaan pasar yang terus meningkat, budidaya ikan nila di Kampung Tondoh diharapkan dapat menjadi salah satu sektor unggulan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.




















