TONDOH, Kutai Barat, Minggu, 12 April 2026 — Kampung Tondoh, Kecamatan Mook Manaar Bulatn, terus menunjukkan perkembangan signifikan dalam tata kelola pemerintahan, pembangunan infrastruktur, serta pelayanan publik berbasis digital. Sejak dimekarkan dari Kampung Muara Jawa dan ditetapkan melalui Peraturan Daerah Nomor 23 Tahun 2010, Kampung Tondoh kini berkembang menjadi salah satu kampung yang progresif di wilayahnya.
Sekretaris Desa Tondoh, Andinul Ermiati, S.AP, menjelaskan bahwa perjalanan administrasi kampung dimulai sejak masa penjabat (PJ) hingga terbentuknya pemerintahan definitif pada tahun 2016.
“Kampung Tondoh berasal dari pemekaran Kampung Muara Jawa dan secara resmi ditetapkan melalui Perda Nomor 23 Tahun 2010. Sejak saat itu, tata kelola pemerintahan terus berkembang hingga terbentuknya pemerintahan definitif,” ujarnya.
Dalam menjalankan pemerintahan, Kampung Tondoh mengacu pada Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, dengan menitikberatkan pada prinsip transparansi, akuntabilitas, partisipasi masyarakat, dan kepatuhan terhadap hukum.
“Seluruh proses perencanaan hingga pelaksanaan pembangunan kami libatkan masyarakat melalui musyawarah desa, mulai dari penyusunan RKP hingga penetapan APBKam dan laporan realisasi,” jelasnya.
Saat ini, Kampung Tondoh memiliki jumlah penduduk sebanyak 751 jiwa yang tersebar dalam 255 kepala keluarga. Mayoritas masyarakat menggantungkan hidup pada sektor pertanian seperti padi, sawit, dan karet. Selain itu, perkembangan UMKM juga mulai tumbuh dan menjadi salah satu penggerak ekonomi lokal.
Dari sisi wilayah, Kampung Tondoh memiliki luas sekitar 7.500 hektare dengan batas wilayah meliputi Kampung Abid dan Muara Jawa di utara, Muara Jawa di barat, Kampung Abid di timur, serta Sungai Mahakam dan Kampung Rembayan di selatan.
Perkembangan infrastruktur di kampung ini juga tergolong pesat. Jalan kampung telah mencapai sekitar 95 persen semenisasi dari RT 1 hingga RT 4. Selain itu, akses listrik dari PLN telah menjangkau seluruh rumah warga.
“Untuk infrastruktur, kami bisa katakan sudah hampir 90 persen terpenuhi. Jalan sudah sebagian besar disemen, listrik sudah 100 persen, dan jaringan komunikasi juga cukup memadai,” ungkap Andinul.
Dalam hal pelayanan publik, Pemerintah Kampung Tondoh terus berinovasi dengan menghadirkan sistem pelayanan yang lebih efektif dan efisien. Struktur pemerintahan terdiri dari kepala kampung, sekretaris desa, tiga kepala seksi (pemerintahan, kesejahteraan, pelayanan), serta dua kepala urusan (umum/perencanaan dan keuangan).
“Kami memaksimalkan pelayanan publik melalui pembagian tugas yang jelas, mulai dari administrasi pertanahan, pelayanan surat-menyurat, hingga pendataan bantuan sosial dan program kesehatan,” tambahnya.
Ke depan, Kampung Tondoh juga berencana meluncurkan website resmi desa sebagai bagian dari transformasi digital.
“Melalui website desa nanti, masyarakat bisa mengakses layanan administrasi secara online, termasuk pengaduan dan permohonan surat, sehingga tidak perlu bolak-balik ke kantor desa,” jelasnya.
Tak hanya itu, pemerintah kampung juga mulai melirik pengembangan sektor pariwisata sebagai sumber pendapatan baru.
“Kami ingin menciptakan destinasi wisata buatan yang dapat menarik minat masyarakat luar, sekaligus mendukung pertumbuhan UMKM dan pendapatan asli kampung,” tutupnya.
Dengan berbagai upaya tersebut, Kampung Tondoh optimistis dapat terus berkembang dan menjadi contoh kampung maju yang mengedepankan transparansi, partisipasi masyarakat, serta inovasi berbasis teknologi.




















